Etika web desain? (1) – Reliability / Reliabilitas

Satu atau dua bulan lalu saya bertemu dengan salah satu klien kami, Pak Nyoman untuk melakukan serah terima situs beliau di www.alamnusa.com, sebuah situs imagebank yang menyediakan foto – foto natural pemandangan indonesia.
Setelah selesai menandatangani dokumen serah terima dan lain – lain, beliau tersenyum lebar dan mengeluarkan sepatah kata yang cukup mengejutkan. “Ini adalah sesuatu yang sudah saya impikan sejak lama sekali”
Mungkin dalam bentuk tulisan sepertinya agak biasa ya, tapi kalau anda mendengarkan live caranya berbicara kelihatan sekali bahwa ini adalah sebuah achievement yang luar biasa bagi beliau.
Interesting. Saya tanya lebih lanjut.
Setelah itu muncul cerita panjang lebar mengenai pengalaman beliau dengan para web developer sebelumnya. Ternyata perusahaan kami adalah web developer ketiga yang dicoba. Yang pertama dan kedua ternyata menghentikan proyeknya dalam keadaan setengah jadi karena berbagai hal, padahal beliau sudah investasi banyak sekali dana disana. Ada yang sudah 100% jadi tampilannya, tapi belum dibuat CMSnya. Yang satu laginya CMSnya tidak bisa diakses dan tampilannya tidak bisa di-edit.
Yang pertama muncul di pikiran saya waktu mendengar cerita itu adalah; klien yang ini ternyata pemberani juga ya. Padahal sudah terbakar dua kali, tapi masih keukeuh melanjutkan.
Yang kedua muncul adalah; itu web developernya kurang asem bener ya? koq bisa-bisanya ditinggal begitu.
Kan sama saja seperti tukang bangunan yang buatin rumah tapi lupa atapnya.
Atau makan bakmi tapi engga dikasih sendok garpu.
Kalau dibayangkan kita jadi pak nyoman, itu pasti frustrasi berat. Karena tidak ada kemampuan untuk memperbaiki, dan produknya tidak bisa digunakan pula. Dengan alasan apapun sepertinya tidak etis untuk meninggalkan sebuah pekerjaan dalam kondisi setengah jadi seperti itu.
Ini memprihatinkan karena dalam 10 tahun bekerja di bidang ini, cerita serupa sudah saya dengar berkali – kali. Salah satunya malah dari seorang ekspat yang datang ke indonesia dari inggris untuk mengejar web desainernya yang lari dan tidak menyelesaikan proyeknya.
Mungkin perlu dibuat budaya komunikasi yang lebih terus terang antara para profesional web developer dengan kliennya supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi.
Contoh: Di US ada anggota keluarga saya yang pernah minta perbaikan pipa air ( plumbing ). Tukang ledengnya sebelum datang inspeksi sudah menjelaskan bahwa ada biaya transport. Setelah inspeksi langsung billing dan diinformasikan kerusakannya begini begitu, perlu beli bahan ini itu, harganya segini. Kalau berminat silahkan telpon buat appointment lagi.
2 hari kemudian dia datang lagi, kasih bon lalu mulai bekerja. Pengerjaannya hanya 45 menit, kemudian orang itu minta ditemani keliling seluruh rumah untuk mengetes setiap wastafel dan keran.
Komponen pipa yang rusak dimasukkan kantong plastik dengan rapi, diberi label dan instruksi kalau mau beli di toko harus bilang apa.
Sebuah pengalaman yang mengesankan dan profesional.
Dan mahal.
Popularity: 2% [?]
You’re currently reading “Etika web desain? (1) – Reliability / Reliabilitas”, an entry on MAX MAX MAX – TRIMAXS Feasible Blog
- Published:
- 06.14.10 / 2pm
- Category:
- Thoughts, miscellaneous
- Post Navigation:
- « Gempa 2 September 2009, Tasikmalaya
4 Etika web desain »












